Project : Nursery

Wednesday, September 02, 2015 Karindra 0 Comments



Hehe, sebenernya kita nggak bikin nursery sih untuk Dundun. Namanya juga masih tinggal sama orangtua, jadi disini sebenernya yang dimaksud dengan nursery cuma lemari. Yep, saya dan Pak Suwami akhirnya menyempatkan diri ke Ikea untuk belanja furniture khusus si Dundun seperti yang pernah diobrolin di sini.

Walaupun akhirnya wishlistnya nggak dibeli semua (beli floor lamp khawatir nanti dimainin si Dundun pas dia gedean, beli karpet anak Pak Suwami bilang kekecilan, dia mau yang bisa dipake tidur-tiduran sekalian) dan malah ada yang dibeli di luar rencana (beli selimut sama perlak bayi kok di Ikea coba? Nggak tahan abis lucu dan murah) kita tetap semangat dan mau coba-coba ngerakit sendiri si lemari baru. Sekalian berhemat juga, kalau dianter dan dirakit bayarnya 350 ribu - bisa buat tambah-tambah beli perintilan lainnya.

Jalan-jalan ke Ikea selalu bikin capek, tapi happy.

Sesampainya di rumah, Pak Suwami langsung semangat untuk merakit si Lemari, padahal sudah hampir maghrib waktu itu. Dia langsung bongkar kardus dan mengeluarkan semua isinya yang berupa papan-papan kayu dan perkakas (saya baru tahu sampai obengnya disediakan lho! Tapi baut-baut yang ada benar-benar pas-pasan sesuai yang dibutuhkan, nggak ada lebihnya! Hahahaha) dan buku manual untuk modal merakit. Begitu melihat si buku, Pak Suwami cuma bolak-balik halamannya dan mengalihkan pandangan dari peralatan ke buku, begitu terus dan bilang "Ah gak tau ah pusing!" Ternyata di buku itu cuma ada gambar, nggak ada keterangan dalam bentuk tulisan. Papan-papan dan perlengkapannya (roda, rel, kayu) pun nggak ada nomornya seperti kalau kita merakit mainan. Akhirnya karena saya lebih kreatif otaknya njelimet, mencobalah mandori Pak Suwami. Ternyata nggak segampang dan seindah di video-video kehamilan, ih! Beberapa kali kita salah pasang, terbalik, bongkar lagi dan pasang lagi. 

Tidak seindah video di youtube. 

Bahkan kita sempet berantem dan saya sempat mewek (salahkan hormon, nonton iklan Thailand aja saya mewek kok) karena sebel gagal terus. Sudah capek, njelimet pula, akhirnya saya bertekad dalam hati nggak akan pernah lagi lah sok merakit sendiri perabot dari Ikea.

Pak Suwami masih semangat.

Sampai pada akhirnya ketika semua tersusun, ternyata laci-lacinya nggak bisa dirapetin. Pokoknya tidak seindah display! Pak Suwami balik cranky lagi melihat "karya" nya nggak sempurna padahal sudah mengikuti semua yang ada di buku panduan. Saya bertekad complain ke Ikea besoknya, karena sepertinya lubang tempat rel geser beberapa cm dari tempat seharusnya, makanya lacinya nggak bisa ditutup rapat dan terlihat miring. Tambah kesal lah kami.

For some problem we have to sleep it off ya, Pagi ini ternyata saya sadar kalau kita pasang rel terbalik! Hahahahaha. 

0 comments: